Kamis, 06 Desember 2012

Dimanakah letak ranjau-ranjau itu?

Menyambung tulisan saya tentang "salah persepsi", berikut ini saya paparkan dimanakah letak ranjau-ranjau dunia arloji berdasarkan pengalaman saya pribadi maupun cerita dari mereka yang pernah mengalaminya. (1) beli arloji dari blog. Tidak selalu keadaan arloji sama persis dengan fotonya. Tapi kalau coba-coba datang langsung ke pusat-pusat penjualan arloji tanpa pengalaman, tanpa ada yang kenal dan tanpa didampingi yang sudah pengalaman, wadow! Siap-siap. Siap-siap apa? Ya siap-siap aja. Gak ada salahnya kan selalu siap. (2) begitu abis beli ternyata arlojinya bermasalah. Normalnya arloji diservis minimal 5 tahun sekali. Bayangkan jika umur arloji yang sudah 20 tahun dan ternyata belum pernah diservis. Baru kita pakai beberapa minggu ya ngadatlah. Kita coba bawa ke tukang servis (kerennya "watchmaker"), setelah dikotak-katik bukan malah tambah bener malah tambah gak bener. Akhirnya bolak-balik gak bener-bener. Masih untung arlojinya selamat, ada juga yang "raib" di tangan watchmakernya. Goodbye sekian juta. (3) mau coba-coba jualan arloji, ketemu calon pembeli yang ilmunya "tinggi". Semulus apapun arloji kita, selalu saja dia berhasil menemukan "cacatnya". "Waduh sayang ya...ada goresnya, ada ininya, ada itunya". (4) menduga-duga harga waktu mau beli. Ketemu pedagang yang ilmunya tinggi, berhasil meyakinkan kita bahwa harga yang dia berikan "murah", gak tahunya wadow. Ada website yang mencantumkan harga ada yang tidak. Website di luar negeri juga ada yang tidak mencantumkan harga dan setiiap kali kita harus email untuk menanyakan harga arloji yang kita minati, entah mengapa harus begitu. Kita hanya menduga bahwa dia tidak mau patokan harga standar dia dibaca atau diketahui umum. 
Tujuan saya menulis ini adalah agar pendatang baru lebih memiliki persiapan yang cukup sebelum benar-benar terjun, sehingga jumlah yang sms atau menelepon saya dengan keluhan "rugi" bisa berkurang di masa mendatang. Dunia arloji memang bukan tempat untung, tapi tempat rugi. Hanya orang-orang "tertentu" yang bisa untung, dan sulit bagi orang-orang yang "bukan tertentu" untuk menandinginya. 

3 komentar:

  1. Wah, koq kayaknya bener semua yah. he he he. Tapi, disini pulak seninya. Kalo beli jam baru, bersih, harga pasti, dan tanpa masalah koq kayaknya gak seru yah!

    BalasHapus
  2. Justru persepsi "jam bekas tdk harus bersih, tanpa codet dan tdk punya masalah dgn akurasi" yg SALAH. Ini cuma pembenaran bagi oknum2 yg membuang sampah2nya ke masyarakat awam atau pemula. Setiap pembeli berhak mendapatkan jam tangan yg dikehendakinya sesuai dgn standar dan pengetahuan yg didapatkannya sblm melakukan pembelian. Adalah tugas kita utk tdk membiarkan oknum2 mengindoktrinasi pasar bhw jam tangan bekas harus bergores, punya cacat sedikit dan tdk mengutamakan akurasi/performans yg sesuai dgn spesifikasinya.

    Kucimo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Peluang diterapkan amat tipiss. Secara teori ada benarnya, tapi dalam praktek amat sulit diterapkan. Penjual dan pembeli dari berbagai karakter. Jam bekas yang beredar juga dalam berbagai tipe. Syarat yang harus dipenuhi sebuah jam bekas untuk seperti jam baru tidak layak disandingkan.

      Hapus