Sabtu, 02 Mei 2009

Omega: Tiga Bersaudara (2)




Nah yang Seamaster Calendar ini unik. Walaupun dial kelihatan "buruk" sebenarnya itu disebut "aged dial". Justru banyak yang menyukai dial seperti ini (proses penuaan yang merata) karena menunjukkan keaslian. Kedua, perhatikan index yang dipakai adalah model kipas. Index ini langka karena umumnya yang ada indeks runcing ramping. Ketiga, model seperti ini yang stainless steel lebih jarang, paling banya yang gold top (kuning). Selain itu saya sudah periksa dengan saksama keaslian arloji ini, dari nomor casing, nomor mesin dsb ternyata memang seluruhnya sesuai, semua masih orisinil. Sekarang ini sulit dapat yang benar-benar orisinil. Jadi walaupun buruk rupa saya koleksi juga dengan berbagai pertimbangan tersebut di atas.

Omega: Tiga Bersaudara (1)


Tidak mudah untuk mengumpulkan tiga bersaudara ini, Constellation Calendar, Seamaster Calendar dan Geneve Calendar. Yang paling sulit didapat ya si Geneve Calendar. Rasanya belum pernah saya temui Geneve Calendar seperti ini, kecuali beberapa tahun lalu gambarnya sempat muncul di internet. Kalau melihat dan memegang langsung, belum pernah lagi kecuali yang ada pada saya ini. Perhatikan dial cembung (convex) dengan gradasi warna yang kelihatan seperti two-tone. Cross hair dan warna yang putih lembut membuat si Geneve ini bertambah manis, apalagi tulisan "Geneve"nya dibuat kayak tulisan tangan. Dipasang rantai orisinil Omega jadi tambah mantap.

Enicar Sherpa (3)




Yang lebih jarang adalah yang Ultrasonic. Entah kenapa disebut begitu. Jarum yang dipakai model tombak. Ada yang size besar dan ada yang agak kecilan. perhatikan rantai yang orisinil motifnya beda sama tipe Sherpa yang biasa.

Enicar Sherpa (2)







Nah gambar yang ditampilkan sekarang yang casing kaki panjang dengan berbagai variasi dial. perhatikan rantai yang digunakan bermotif beras, semua orisinilnya. Gambar pertama ini yang dialnya ada tulisan "33" entah apa maksudnya. Gambar yang kedua ring dalamnya berwarna merah putih, cantik sekali. Gambar yang lain ringnya merah-biru jadi mirip ringnya Rolex GMT.

Jangan anggap remeh Enicar Sherpa (1)







Dipelopori oleh seorang watchmaker bernama Ariste Racine tahun 1914, Enicar punya daya tarik kuat bagi penggemar arloji antik. Yang paling banyak diminati adalah seri Sherpa, karena tim ekspedisi Himalaya pada tahun 1956 sangat mengandalkan Enicar sehingga keluarlah seri Sherpa Time, Sherpa Ultradive, Sherpa Jet, Sherpa Ultrasonik, ada yang chronographnya. Nah, tipe Sherpa ini kalau di market internasional pasarannya cukup kuat, harga bagus. Di dalam negeri pun harga cenderung naik, setahun lalu masih harga 500 sampai 800 ribu kini bisa mencapai 2.5 juta (tergantung kondisi). Enicar Sherpa ada banyak variasi warna. Casingnya ada yang berkaki panjang dan ada yang pendek. Yang kaki pendek lebih jarang dan karenanya lebih diminati (otomatis jadi lebih mahal). Tapi anehnya, mesin satu ama yang lain sering beda, jadi sering sulit mencari kanibal spare partnya jika mengalami kerusakan. Kedua gambar adalah Sherpa model kaki pendek, ring dalam warna putih-biru, perhatikan rantai yang orisinilnya lebih tipis daripada rantai Sherpa yang kaki panjang, dipakainya lebih enak, dan rantai ini tidak bisa digantikan oleh rantai yang untuk kaki panjang. Jadi memang beda. Nah kedua gambar selintas tampak sama padahal kalau dilihat dialnya ada beda sedikit. Dial yang gambar pertama ada kotak-kotak di indexnya, kayak bendera racing (balap mobil) jadi sering juga disebut motif racing. Selain itu, warna jarum detik (jarum sekon) berbeda, yang satu merah satu kuning. Cari Sherpa yang mulus sulit, umumnya tidak mulus.

Apa arti kata "Rolex" ?

Saya pernah membaca artikel yang berisi penjelasan bahwa kata Rolex tidak ada arti khusus, hanya dipilih karena kedengarannya enak dan mudah dilafalkan serta diingat. Tetapi di buku "Wristwatches" terbitan Konemann (1999) disebutkan bahwa kata Rolex berasal dari "horlogerie exquise" yang artinya exquisite watchmaking. Entah mana yang benar.

For Fun atau For Sale?

Bagi seorang kolektor arloji antik, pertanyaan mendasar adalah seberapa banyak dia mau mengoleksi. Ada yang mengoleksi banyak sekali tanpa kriteria. Ada yang mengoleksi berdasarkan merk, berdasarkan tahun, berdasarkan tipe (chrono saja atau sport saja dsb), berdasarkan harga, dan banyak lagi. Semua itu dimaksudkan agar ada spesialisasi, agar ada sikap selektif sehingga tidak membeli segala macam. Namun, sering juga masih terasa kebanyakan walau sudah bersikap selektif. Jika perasaan ini muncul maka otak berputar apa yang harus dilakukan? Mengoleksi arloji dalam jumlah banyak selain menghabiskan dana yang tidak sedikit juga memerlukan perawatan yang cukup merepotkan. Jadi perlukah mengoleksi dengan batasan kuantitatif tertentu? Misalnya, ah saya sih maksimal 50 biji saja, lebih dari itu harus ada yang dilepas/dijual. Jika demikian, persoalan berikutnya muncul, yaitu yang mana yang akan dilepas? Kalau diperhatikan satu demi satu, rasanya sayang karena masing-masing punya keunikan. Tapi kalau tidak ada yang dilepas, bagaimana? Nah, lebih celaka lagi, jika ternyata penawaran saat mau menjual justru lebih rendah daripada harga waktu kita beli. Kalaupun lebih tinggi ternyata selisihnya sedikit sekali, katakanlah satu atau dua ratus ribu saja. Seorang penikmat jam biasanya berani membayar lebih mahal daripada standar pedagang apalagi kalau kondisinya bagus. Tapi ternyata begitu mau dilepas, ehh tawaran malah tidak ada yang berani tinggi, ternyata tidak mudah menemukan pembeli yang berani. Akhirnya pertanyaannya, kita ini mau for fun atau for sale?