Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2023

Apa kriteria jam militer?

Setahu saya, jam militer tentu harus tangguh di segala medan. Selain itu harus mudah dibaca (easy to read). Ini contoh jam yang menurut saya simple, easy to read. Jelas. Ga ada kalendar. Katanya, jam yang simple ga ada kalendar dsb katanya lebih mudah perawatannya daripada jam yang banyak fungsinya. 





Senin, 22 Mei 2017

SUDAH LAMA TIDAK MEMBUKA BLOG

SUDAH LUPA, MASIH ADA YANG MENENGOK KAH?

Sabtu, 07 Mei 2016

Certina Double Security: Legenda yang Tak Banyak Diketahui SOLD

Semua merk arloji berlomba-lomba untuk menciptakan model yang tahan banting. Pada masa itu (1940an sampai 1960an) arloji adalah barang lux, sehingga pembeli ingin mempunyai arloji yang benar-benar bagus bukan hanya dalam penampilan tetapi juga dalam daya tahan dan keawetan. Biasanya arloji diikutsertakan dalam ekspedisi, masih ingat Ekspedisi Kontiki yang membawa arloji Eterna bukan? Atau arloji Enicar Sherpa yang dipakai ke ekspedisi Himalaya? Nah kali ini kita akan membahas Certina DS (singkatan dari Double Security). Pada awal tahun 1950an Certina juga berusaha menciptakan arloji yang tahan banting. Dibawah arahan Philipp Kurth, setelah bertahun tahun melakukan percobaan, akhirnya Certina menemukan inovasi baru. Arloji ini menggunakan shock absorber tambahan disamping incabloc konvensional. Penambahan fitur ini membuat movement mounting menjadi floating sehingga mesin tidak terkena guncangan. Selain itu, di belakang mesin juga ditambah sealing, disain caseback yang lebih kokoh, mika yang lebih tebal dan tinggi, gap udara antara mesin dan dial sehingga mesin lebih terproteksi. Arloji ini diklaim tahan banting dari ketinggian 6 meter dan kedalaman air 200 meter. Uniknya lagi, saking bagusnya proteksi terhadap mesin, bunyi mesin hampir hampir tidak terdengar walaupun kita sudah menempelkan telinga kita ke mika!. Hebat! Certina DS mulai diproduksi pada tahun 1959. Nah sekarang saatnya arloji ini diuji. pada tahun 1960 ekspedisi Himalaya dipimpin oleh Max Eiselin berhasil mencapai puncak 8,167 meter dimana semua pendaki menggunakan Certina DS. Sejak itu Certina DS berhasil meraih ketenaran tingkat dunia. Tipe manual (putar) menggunakan mesin caliber 25-36 yang saya tampilkan fotonya ini adalah generasi pertama yang dibuat hanya setahun (1959-1960) sebelum digantikan oleh generasi-generasi berikutnya, size nya juga lebih besar (jumbo).  Sungguh beruntung mereka yang memiliki Certina DS klasik dan vintage, selain indah juga tangguh.


Rabu, 23 Maret 2016

Ribut Ribut Soal Teknologi Online

Kemarin ini Jakarta heboh akibat protes pengemudi taxi "konvensional" terhadap jasa transportasi yang menggunakan pesanan dengan aplikasi online. Tampaknya teknologi online ini juga terasa pengaruhnya terhadap dunia jam antik. Saya ingat ketika awal tahun 2000 saya mulai mengumpulkan jam antik. Saat itu belum ada online online, blog blog, seperti sekarang. Internet sudah ada tetapi masih terbatas. Webiste juga sudah ada, seperti website "iklan baris" atau "iklan mini" dimana sekali-sekali saya temukan juga informasi tentang jam antik. Melalui website itu lah saya mulai mengenal teman-teman generasi awal seperti Arif Yulianto yang sampai saat ini masih eksis bahkan menjadi the living legend dalam dunia kang-ouw jam antik. Ada juga beberapa nama lain, tetapi mereka tidak aktif lagi dalam beberapa tahun kemudian. Untuk mendapatkan jam antik, tempat yang paling sering saya kunjungi adalah pasar Jatinegara dekat lapangan Jenderal Urip. Disana ada beberapa kios sederhana, kaki lima berjejer. Suasana ramai, panas. Saya menjalin pertemanan dengan para pedagang disana dan harus rajin rajin datang supaya tidak kehilangan kesempatan mendapat jam antik. Ketika masuk jam makan siang, kita mampir dulu di warteg dekat situ. Disana saya mulai "berkenalan" dengan Titus, Titoni, Mido, Seiko 5, Ricoh, Sandoz. Sekali-kali ada Omega. Beberapa tahun kemudian mereka digusur, tidak boleh lagi berjualan di sekitar lapangan Jenderal Urip. Mulai lah mereka tercerai berai, pindah ke lokasi yang saling berjauhan. Sekian tahun berikutnya saya mulai menjajaki kios kios di Jl Batu Tulis, Pecenongan. Disini saya mulai naik kelas. Lihat lihat Omega dan Rolex. Jumlah jam antik di sana saat itu cukup berlimpah, Omega Constellation sering didapat. Saya juga mulai mengunjungi kota lain, terutama Jl ABC di Bandung, kemudian beberapa lokasi di Surabaya dan Malang. Sekian tahun berikutnya saya mulai berkenalan dengan pendekar-pendekar baru, yang beberapa di antaranya kemudian memelopori penggunaan teknologi online dalam dunia jam, baik jam antik mapun jam modern. Ada yang dulu bertemu saya ibaratnya masih memakai celana pendek dengan membawa sekoper jam yang ternyata isinya jam baterai semua, sekian tahun kemudian menjadi salah seorang dari jajaran pendekar dunia jam! Sekarang semua itu tinggal kenangan yang sekali sekali berkelebat di dalam ingatan saya. Tiada lagi berpanas panas sambil deg-degan kira-kira hari ini saya akan mendapat jam apa? Sekarang tinggal duduk di depan laptop atau kotak katik smartphone lihat lihat blog yang isinya segala macam jam ada disana.Kalo cocok tinggal sms dan transfer. Tidak perlu jauh jauh nyamperin. Kita tidak kenal siapa dia, kita tidak pernah menatap sorot matanya, tidak membaca bahasa tubuhnya. No human element. Jadi ingat Herbert Marcuse dalam bukunya "One Dimensional Man" (1964) yang mengritik "advanced industrial society" yang tak lebih hanya memunculkan manusia satu-dimensi.

Pedagang di Jatinegara juga mungkin sudah bubar. Pedagang di Pecenongan juga mungkin lebih sepi. Saya tidak tahu karena sudah lama tidak datang kesana. Seperti pengemudi taxi "konvensional" yang harus menghadapi taxi "online", demikianlah keadaan pedagang jam "konvensional", tetapi tanpa demo. Zaman bergerak, musim berganti. Orang-orang datang dan pergi. Hidup bukan seperti pasar malam, kata Pramoedya Ananta Toer. Not an all night fair. Usia saya bertambah. Masa lalu saya lebih banyak daripada masa depan saya. Dan Jatinegara, Pecenongan adalah bagian dari masa lalu yang banyak itu.

Sabtu, 19 Desember 2015

Sentuhan yang Membuat Perbedaan

Kali ini saya akan membahas sedikit tentang Rolex Date. Rolex model ini sering disebut sebagai "adik" Rolex Datejust, karena sebenarnya tidak ada beda antara kedua model tersebut kecuali pada ukurannya (size) dimana Rolex Date lebih kecil sedikit daripada Rolex Datejust. Dalam dunia vintage, Rolex Date dikenal dengan kode 1500 jika masih menggunakan mesin dengan system non quickset date (perpindahan kalendar masih secara manual/belum trelek). Nah, Rolex juga mengeluarkan varian dengan kode 1501, yaitu 1500 dengan menggunakan bezel bergerigi (fluted) tetapi tidak bergerigi rapat seperti biasa ditemukan pada model Datejust. Gerigi yang "bersahaja" pada 1501 justru membawa dampak luar biasa, jika dilihat seolah-olah sizenya lebih besar, padahal itu karena efek dari bezelnya yang diberi sentuhan sederhana. Sentuhan membawa perbedaan!!

Nanti dulu, sekarang kita lihat pada tipe yang sama tetapi dengan bezel polos (gundul) pada foto satunya.  Sentuhan apa yang membuat tampilannya lebih besar? Jawabnya, perhatikan index batangnya yang menggunakan model double onyx! Sentuhan sederhana tetapi membawa dampak luar biasa.


Sabtu, 21 November 2015

Sekali Lagi: Omega Constellations !

Dalam film Tomorrowland keluaran Disney, aktor George Clooney  memakai Omega Constellations vintage tahun 1958. Saya sudah menonton filmnya, tetapi saya tidak memperhatikan benar dalam adegan yang mana George Clooney tampak mengenakan arloji itu. Bagi penggemar dan kolektor arloji vintage, memiliki Omega Constellation adalah suatu keharusan, karena Constellations dipandang sebagai salah satu item yang paling terkemuka. Soal sejarah Constellation ini tidak perlu saya ulang ulang disini.
Saya baru membaca artikel yang ditulis oleh Elizabeth Doerr, dia sendiri adalah penulis buku Bridging Art and Mechanics, the Unabridged Story of the Corum Golden Bridge. Buku tsb baru diterbitkan 2015, berisi sejarah arloji Corum. Yang menarik, berdasarkan riset dia, penemu Omega Seamaster dan Constellations adalah Rene Bannwart, co-founder Corum, yang pada tahun 1940 dalam situasi perang berpindah dari Geneva ke Bienne dan bekerja pada Omega. Pada saat itu Omega adalah salah satu dari sedikit produsen arloji yang masih bertahan berproduksi di tengah suasana perang. Salah satu tugas Rene adalah berbicara dengan para pelanggan dari seluruh dunia untuk menampung keinginan mereka tentang model-model yang paling sesuai dengan pelanggan. Segera setelah perang selesai, industri arloji kembali bergeliat. Untuk memperingati 100 tahun Omega (1848-1948) Omega mengeluarkan model Centenary, yang kemudian diikuti oleh Seamaster (1948) dan Constellations (1952). Ada satu catatan menarik dalam riset tersebut. Ternyata pada masa itu, arloji-arloji tidak diproduksi dengan cara persis seperti diproduksi sekarang. Pada masa itu, para pemasok casing dan dial lebih independen. Mereka memang memasok casing dan dial untuk pabrik Omega sesuai pesanan, tetapi mereka juga lebih bebas merancang dial dan casing sendiri. Jadi bisa dibayangkan ada berapa ribu variasi dial atau bahkan casing Omega pada saat itu, jika beberapa pemasok secara kreatif merancang, membuat dan mengedarkan dial atau casing sendiri, sementara mereka tinggal comot mesinnya saja dari pabrik Omega. Jangan-jangan pihak pabrik Omega sendiri tidak tahu (dan karenanya tidak mengakui) jika di pasaran ada model-model atau variasi-variasi yang berbeda dari design pabrik. Ini berbeda dengan sistem produksi sekarang, dimana design di-sentralisasi. Selain itu, demi menggenjot produksi pasca-perang, produsen arloji harus sebisa mungkin memenuhi selera konsumen yang beraneka ragam. Jadi, bisa saja ada beberapa model atau variasi tertentu yang memang dibuat demi memenuhi keinginan sekelompok pelanggan (konsumen). Nah, bagi mereka yang suka komentar "wah ini palsu ni, ga ada model begini.." mungkin perlu membaca sejarah arloji secara lebih mendalam.  

Artikel saya ini tidak dilengkapi dengan foto. Nanti kalo saya tampilkan, dibilang palsuuuu.

Minggu, 04 Oktober 2015

Mengapa All Gold ?

Bagi sebagian orang arloji yang materialnya terbuat dari emas dianggap terlalu mencolok dan terlalu mahal. Memang ada benarnya. Dulu arloji terbuat dari all gold dianggap menempati kelas paling atas. Arloji all gold mewakili ("represents") kelas atas karena itu harganya lebih mahal, selain karena materialnya (emasnya) memang lebih mahal daripada casing stainless steel. Konon arloji all gold lebih populer di masyarakat Asia daripada Eropa atau Amerika. Bagi saya, arloji all gold punya pesona sendiri. Harga saya kira cenderung naik terus, jadi cocok jika disimpan untuk jangka waktu lama. Kalau punya anak perempuan, cocok juga dijadikan sebagai warisan (anak lelaki biasanya kurang suka). Sepuluh tahun lalu saya masih ingat Eternamatic all gold 18k harga sekitar 3.5 juta. Sekarang pasti sudah di atas 10 juta. Sebaiknya pilih yang 18k (75%). Selisih harga antara yang 18k dan 14k (50%) cukup jauh karena kadar emasnya pun beda sampai 25%.  Untuk menyiasati harga para produsen arloji mengeluarkan model "gold capped top" yang penampilannya sama dengan all gold padahal hanya lapisan atasnya saja yang dilapisi emas (dengan cara "sandwich" bukan dengan cara celup atau oksidasi) karena itu harganya tidak semahal all gold. Silakan menikmati tiga dara yang cantik-cantik ini: Omega all gold, Longines all gold dan Movado all gold.....No telp saya yang aktif sekarang 08111757626




Sabtu, 03 Oktober 2015

Apa itu prototype ?

Dalam dunia arloji kadang kita temukan istilah prototype. Tampaknya istilah itu mengacu kepada "model awal" yang kemudian dikembangkan atau disempurnakan menjadi model yang lebih baik dan lebih dapat diterima oleh pasar. Hal ini dapat disebut juga sebagai model uji coba sebelum memutuskan untuk terus memproduksi atau tidak. Tentu saja secara kuantitas model prototype tidak banyak. Oleh karena itu seringkala keberadaannya diperdebatkan. Sebagai contoh saya kemukakan Omega ini, jika dilihat dari modelnya mirip dengan Constellation Grand Luxe dengan dial honeycomb, mesin grade chronometer caliber 354 dan fancy lugs (unik sekali!), dan materialnya emas solid 75% alias 18k.  Jelas ini bukan (atau "belum") Constellation, tetapi jika ditambah tulisan "Constellation" di atas angka 6 dan simbol bintang serta observatorium di tutup belakang, maka jadilah Constellation Grand Luxe. Jika kita buka tutupnya dan lihat serial number di inside caseback maka susunan angkanya hanya beda satu digit dengan Constellation Grand Luxe. Apakah ini yang disebut prototype Constellation Grand Luxe? Saya serahkan kepada pembaca blog ini (kalau masih ada yang baca).

Oya nomor telp saya (WA juga) kembali lagi ke 08111 75 76 26  nomor nomor lain sudah tidak aktif



Jumat, 18 September 2015

Apakah Ini Suatu Evolusi Model?

Kalau kita perbandingkan, Seiko yang sebelah kiri modelnya lebih belakangan daripada Olma. Apakah ada evolusi model dari tahun 1930an sampai yang 60an ya? Tapi yang Olma tidak alarm, sedangakan yang Seiko alarm.


Misteri Si Olma Terpecahkan....

Beberapa tahun yang lalu saya mendapatkan jam merk Olma yang unik. Saat itu saya tidak tahu ini jam apa, apakah jam kantong (pocket watch) atau apa? Karena kesibukan, jam itu tergeletak saja di laci. Sekali kali saya putar. Akurasi masih sangat baik. Akhir-akhir ini saya perhatikan lagi. Jam ini dibungkus dengan casing stainless steel. Membukanya harus dengan cara menekan tombol di samping. Karena penasaran saya cari informasi mengenai jam seperti ini. Ternyata ini adalah jam meja. Cara membukanya sederhana sekali. Tinggal diangkat saja, dan diletakkan di atas meja. Bentuknya jadi lucu. Apalagi ukurannya mungil untuk ukuran jam meja, hanya 4.5 x 3 cm. Mesin putar, kenopnya gede (sengaja supaya mudah memutarnya). Saya foto saya sandingkan dengan jam digital di latar belakang. Akurasi sangat baik. Olma adalah merk yang kurang terkenal. Didirikan oleh Paul Jeannin Bourquin tahun 1836 tetapi belum menggunakan merk Olma. Olma baru digunakan pada tahun 1926. Kalo dilihat dari modelnya, tampaknya jam saya ini dikeluarkan pada akhir 1920an atau awal 1930an. Berarti usianya sudah sekitar 80an tahun.





Minggu, 16 Agustus 2015

Semakin Lama Semakin Asyik

Sebelum mulai menggemari arloji (jam tangan/wristwatch), saya menggemari jam dinding, jam lemari dan jam meja. Berikut ini saya tampilkan yang masih tersisa dari koleksi jam dinding saya. Saya katakan "tersisa" karena jumlahnya awalnya mencapai 10 tetapi sudah saya jual-jual karena menyita tempat dan kewalahan merawatnya. Yang masih saya pertahankan adalah yang istimewa istimewa. Yang pertama merknya Junghans, tiga lobang (perempatan) tiap 15 menit bunyi, Yang istimewa adalah bunyinya memiliki gema yang panjang, lembut, merdu dan indah. Selain itu, ukiran pada box nya sungguh unik, ada butir butir tasbih di kedua sisinya. Konon ukiran seperti ini cukup langka. Koleksi kedua hanya dua lobang (tengahan) bunyi setiap 30 menit tetapi bunyinya sangat istimewa, sangat mirip dengan bunyi lonceng shaolin dong dong dong begitu. Sebagai pengagum shaolin tentu saja mendengar dentang lonceng shaolin di tengah rumah membawa efek lain dalam jiwa saya.  Koleksi ketiga buatan Gustav Becker, tengahan tetapi double gong. Silakan google saja siapa Gustav Becker dan betapa kolektiblenya. Dan yang keempat adalah Seiko day date 30 days bunyi tiap 30 menit. Seiko ini ditaruh di ruang makan (dining room) sehingga anak-anak bisa melihatnya pada saat makan pagi dan makan malam. Selama belasan tahun jam-jam dinding itu terus hidup, terus bunyi dan terus menemani.Semakin lama malah semakin asyik, bukan semakin bosan.





Jumat, 03 Juli 2015

Omega oh Omega

Barangkali tidak banyak yang mengetahui bahwa pada mulanya Omega bukanlah nama yang dipilih sebagai merk jam, melainkan nama yang diberikan untuk mesin jam (movement). Memang Louis Brandt mulai membuka toko dan mengerjakan pembuatan jam pada tahun 1848 tetapi nama Omega belum digunakan. Nama Omega pada mulanya diberikan kepada mesin caliber 19 yang dibuat tahun 1894, sedangkan nama Omega  baru digunakan pada jam mulai tahun 1903 atas saran Henri Rieckel. Sejak itu merk Omega mulai moncer sebagai salah satu merk arloji buatan Swiss paling terkemuka, bersaing keras dengan Rolex. Pada tahun 1917 Angkatan Udara Inggris memilih merk Omega untuk kesatuan kesatuannya, setahun kemudian Angkatan Darat USA juga memilih arloji Omega untuk digunakan sebagai arloji prajurit mereka. Sejak 1932 Omega menjadi arloji resmi Olimpiade Dunia. Omega juga menjadi arloji yang dipakai oleh James Bond sejak 1995, menggeser Rolex yang sebelumnya dikenal sebagai arloji James Bond terutama tipe Submariner. Tahun 1969 Omega Speedmaster Chronograph dipilih sebagai arloji NASA untuk penerbangan ke bulan.  Masih banyak sederet prestasi Omega. Terlalu panjang untuk diurai disini. Penting untuk dicatat bahwa selama satu dekade dari tahun 1958 sampai 1969 Omega merupakan pabrik arloji yang paling banyak menghasilkan mesin dengan standar COSC Chronometer. Saking banyaknya produksi dan variasi Omega pada masa silam, sampai sekarang kita masih terkaget-kaget ketika menemukan Omega dengan desain desain yang unik, yang mungkin diproduksi terbatas atau malah tidak terdokumentasi. Sumbangan terbesar kejayaan Omega pada tahun-tahun tersebut adalah apalagi kalau bukan Mbak Connie alias Constellations. Pada masa itu orang orang kaya rasanya belum afdol kalau belum memakai Omega Constellations. Pada masa sekarang, kolektor arloji antik belum afdol kalau belum memiliki Omega Constellations.    



Sabtu, 14 Februari 2015

Jam Baterai Vs Jam Mekanik

Mereka yang lebih suka memakai jam baterai terheran heran pada mereka yang lebih suka jam mekanik (baik otomatis maupun manual). Bagi penggemar jam baterai, jam mekanik itu tidak praktis. Disimpan beberapa hari tidak bisa langsung dipakai. harus disetel lagi, diputar lagi supaya jalan. Jam baterai lebih praktis, tinggal langsung pakai. Jam baterai tidak membutuhkan perawatan yang rumit, paling ganti baterai setiap dua tahun sekali atau paling berat ganti IC. Sedangkan jam mekanik lebih rumit perawatannya. Jam mekanik mengandalkan "gesekan" dan itu harus selalu dijaga supaya cukup pelumasan dan cukup kebersihan (tidak kena debu). Idealnya setiap dua tahun sekali harus diservis. Perbaikan lebih sulit jika ada kerusakan. Dan harga jam mekanik juga lebih tinggi. Bagi penggemar jam mekanik, jam baterai itu kurang nilai seninya. Gak menarik. Dan gak ada "ritual" untuk mencocokkan, memutar mutar, dsb. Justru segala kerepotan itulah seninya.

Jumat, 23 Januari 2015

Jam Baru Vs Jam Antik

Sedikit membahas lagi soal jam antik (vintage) dan jam baru. Saya banyak bertemu orang yang lebih suka jam baru daripada jam antik (disebut juga jam vintage). Alasan mereka, jam antik "overprice" alias kemahalan, atau juga "overvalue" alias value sesungguhnya di bawah value dalam benak kolektor (subyektif). Jadi faktor subyektifitas besar sekali, padahal nilai sesungguhnya tidak demikian tinggi. Kedua, sesungguhnya banyak jam antik itu rongsokan. Mengapa demikian? Karena namanya jam antik mekanik (baik otomasis maupun putar) pasti sudah menjalani rentang waktu sekian lama, dan pasti ada bagian-bagian yang telah aus atau bahkan rusak. Sulit untuk mengetahui apakah semua part di dalam jam itu masih benar-benar aslinya atau sudah diganti. Ini ada benarnya juga, karena saya pernah melihat sendiri Rolex Submarine 5513 diganti per nya dengan per punya jam lain, memang jalan sih jalan tapi tidak bisa akurat 100 persen seperti jika diganti dengan part aslinya. Itulah sebabnya mengapa jika kita menservis jam di tempat servis resmi biasanya part-part penting diganti baru total semua (karena itu biaya servisnya sangat mahal), karena sesungguhnya part-part itu pasti telah mengalami ke-aus-an dan tidak mungkin hanya dikasih oli atau hanya dibersihkan saja. Part yang telah aus ibaratnya bagai bom waktu, tinggal nunggu waktu untuk rusak total. Ini berlaku untuk semua arloji mekanik, yang mahal atau yang murah sama saja. Saya pernah naksir Omega di sebuah international trusted seller. Ketika saya email tanya harganya kok mahal sekali, taksiran saya 1,000 dolar ternyata harganya 5,000 dolar. Saya tanya kenapa semahal itu, di Indonesia gak semahal itu. Dia jawab dia menghabiskan 3,000 dolar untuk menservisnya di Swiss. Jam itu dijamin tokcer, tinggal pakai dan sudah utuh kembali seperti baru dibuat (dalam arti daya tahan dan kualitasnya sudah dijamin seperti baru). Terus saya tanya lagi, emang ada yang mau beli tuh harga segitu? Dia bilang, ada. Langganan dia lebih menyukai beli mahal tetapi benar-benar sudah tokcer tinggal pakai dan dijamin umurnya masih akan berpuluh-puluh tahun lagi karena baru diservis total. Setiap jam yang saya jual sudah melalui proses seleksi yang panjang, dari soal keaslian sampai ke-tokcer-an, makanya harganya mahal-mahal. Saya bilang, wah kalau di negara saya maunya murah tapi tokcer. Ya itu lah negara anda, katanya.  (maaf kalimat terakhir itu karangan saya).

Kembali ke pendapat mereka yang anti jam antik, mereka tanya mengapa mengeluarkan puluhan juta untuk rongsokan? Saya bilang, gak pentinglah antik apa bukan, yang penting seneng. Wong di Indonesia saja ada blog-blog yang nulisnya "jam antik", "jam kuno", dsb isinya campur aduk kok. Ya itu lah negara anda (maaf kalimat terakhir itu karangan saya)

Sabtu, 06 Desember 2014

Membeli barang curian, lantas bagaimana?

Selalu ada kemungkinan arloji yang kita beli ternyata hasil kejahatan (barang curian). Selama belasan tahun menggeluti hobi mengoleksi arloji bekas, kasus-kasus demikian telah menimpa beberapa orang yang saya kenal. Urusan selanjutnya pasti terkait dengan hukum (kebawa-bawa) meskipun anda setengah mati membela diri dengan mengatakan bahwa anda bukan penadah, silakan sampaikan itu di pengadilan. Memang kita seharusnya memiliki filter untuk mengetahui apakah arloji yang akan kita beli itu hasil kejahatan atau bukan. Namun, setinggi tingginya ilmu yang kita miliki, jika datang hari naas kita mau bagaimana lagi. Mungkin anda berkata kepada diri sendiri saat membaca tulisan ini, ah itu tidak mungkin terjadi pada diri saya. Kenapa tidak? Itu  terjadi secara random, jika jarum judi kehidupan sedang menunjuk anda, lantas bagaimana?

Rabu, 14 Mei 2014

Rolex adalah Datejust dan Datejust adalah Rolex

Tahun 1905 Hans Wilsdorf dan rekannya Alfred Davis memulai usaha sebagai distributor jam di London. Tiga tahun kemudian mereka memulai usaha membuat jam tangan (arloji). Hanya berselang dua tahun, arloji Rolex mendapat sertifikat chronometric precision. Tahun 1919 mereka memutuskan pindah ke Geneva untuk memantapkan usaha pembuatan arloji dengan mendirikan Montres Rolex SA. Tahun 1926 Rolex memperkenalkan arloji anti-air pertama di dunia dengan sebutan "Oyster". Tahun 1931 Rolex memperkenalkan arloji dengan mesin otomatik pertama di dunia dengan sebutan "Oyster Perpetual". Kata "Oyster" melambangkan anti-air sedangkan kata "Perpetual" melambangkan gerakan otomatis yang berputar pada porosnya secara terus menerus. Pada tahun 1945 Rolex menggabungkan kemampuan anti-air, ketepatan kronometer, mesin otomatik dan fungsi calendar indicator yang disebut dengan model Datejust. Model ini segera populer dan menjadi state of the art nya Rolex. Model Datejust bahkan identik dengan Rolex dan banyak merek lain yang kemudian meniru model ini. Rolex menciptakan dan mengembangkan Datejust sebelum mengembangkan tipe-tipe sport. Model Datejust terus bertahan sampai sekarang. Baru pada tahun 2012 atau 67 tahun kemudian Rolex memperkenalkan Datejust II. Mengoleksi Rolex Datejust menurut saya sama nilainya atau bahkan lebih tinggi daripada tipe lainnya karena Rolex adalah Datejust.

Sabtu, 10 Mei 2014

Seperti memilih mobil

Kadang-kadang saya berpikir orang-orang membeli arloji dengan pertimbangan seperti membeli mobil. Banyak orang memilih merk dan tipe mobil  tertentu yang populer, yang "gampang dijual lagi", "banyak peminatnya" dan "harga ga jatuh". Tetapi ada juga (sedikit) yang justru menghindari "mobil sejuta umat" seperti itu. Inginnya mobil yang aneh-aneh, yang jarang ditemui di jalanan dan hanya sedikit orang yang memilihnya. Saya pernah kenal seorang kolektor arloji yang justru memburu merk atau model yang aneh-aneh, baik merk low end maupun high end. Suatu ketika saya melihat dia memakai Zenith yang modelnya belum pernah saya lihat, mungkin edisi sangat terbatas atau mungkin model itu belum masuk ke Indonesia. Alasan dia memilih itu karena tidak ingin "disamai" oleh yang lain. "Kalau pakai Rolex kan semua orang tahu, oh itu tuh Daytona," katanya. Bagaimana dengan harga jual kembali? Tentu saja akan "jatuh" tetapi dia tidak peduli karena buat dia kepuasan lebih utama.

Ada juga orang-orang yang sengaja berburu mobil-mobil dengan mencoba menawar serendah mungkin, di bawah harga pasaran.Tujuannya adalah untuk dijual lagi di harga pasaran. Jika katakanlah Avanza tahun 2008 harga 100 juta maka dia berusaha menawar 80 juta karena dia ingin menjualnya kembali di harga 100 juta. Kalau dikasih syukur kalau tidak ya tidak apa-apa, cari lagi kesempatan berikutnya. Orang-orang seperti itu tidak mengejar kepuasan melainkan keuntungan finansial.

Ada juga orang-orang yang menawar mobil dengan harga di bawah harga pasaran dengan tujuan jika bosan dijual lagi di harga yang sama  atau rugi sedikit pasti akan laku cepat. Misalnya contoh Avanza tadi dia tawar 80 juta kalau dia pakai beberapa bulan jual lagi balik modal atau 78 juta pasti laku cepat (gampang). Orang-orang seperti itu tidak mengejar kepuasan tidak juga mengejar keuntungan finansial tetapi mengejar "aman".

Ada juga yang membeli mobil populer tetapi dengan syarat kondisi seperti mobil baru (mobil baru harga bekas). Tetapi nawarnya ya pas-pasan di harga pasaran saja. Bagi dia kondisi istimewa tidak berpengaruh terhadap perbedaan harga, pasaran segitu ya segitu walaupun kondisi kayak baru. Orang seperti ini tidak mengejar keuntungan finansial, tetapi mengejar kepuasan dengan cara "menang deweke bae" (menang sendiri saja).Membeli di atas harga pasaran paling anti karena ga ada istilah "rugi" dalam hidupnya.

Ada juga yang mau melebihi sedikit asalkan memang dia senang, lagi kepengen model itu, dan kondisinya bagus. Yah lebih mahal sedikit wajarlah. Avanza 100 juta wajarlah kalau dibayar 110 karena warnanya unik (jarang) tidak seperti Avanza lainnya.

Ada juga yang "asal seneng beli", ga peduli mau merk apa model apa di harga berapa. Dia mengejar "orgasme berkali kali" dalam memenuhi hasratnya. Buat dia "orgasme" itu yang paling utama, ga peduli rugi atau apa. Orang seperti ini biasanya ga ada temennya.

Nah silakan, kira-kira anda termasuk yang mana?

Minggu, 20 April 2014

"Enicar"

Ada orang mau pergi ke rumah sakit dia datang ke tetangga tetangga nya mau pinjem mobil, dia ketuk pintu rumah tetangganya, "any car?", "any car?" tanyanya. Tapi tetangganya ga ada yang punya mobil, jadi dia putus asa. Pas dia pulang dia berpikir kenapa ga bikin arloji aja yang mesinnya bagus dan banyak dipuja puja orang (termasuk orang Indonesia). Untuk mengenang peristiwa dia cari cari mobil itu maka jamnya dikasi merk "Any Car?" yang kemudian ber-evolusi menjadi "Enicar" seperti yang kita kenal sekarang.

Kamis, 03 April 2014

Tentang Porsche Design (2)

Salah satu produk keluaran PD yang boleh dibilang paling kolektibel dan legendaris adalah Porsche Design Military Chronograph. Menggunakan mesin chronograph otomatik buatan Lemania caliber 5100. Mesin tersebut merupakan mesin terbaik dan tertangguh, dipakai oleh banyak merk seperti Omega, Heuer, dll. Memiliki 7 jarum (seven hands), dimana salah satu jarum kecilnya (sub second) menunjukkan siang/malam (am/pm), sementara minute counter menggunakan jarum panjang independen dimana di ujung jarum itu dipasang sayap pesawat (airplane tip). Ada mesin yang hanya dipasang fungsi calender saja, adapula yang calender-hari seperti pada PD ini. PD ini dibuat pada masa generasi awal, karena itu dibuat dengan kerjasama Orfina (by Orfina). Pada masanya, arloji ini menjadi apa yang disebut sebagai cultural icon, melakukan terobosan antara lain menggunakan bahan stainless steel dengan dark coated finish (berguna bagi pilot supaya tidak silau apabila arlojinya terkena pantulan sinar matahari), mengggunakan kaca flat sapphire anti reflective coating sehingga jika dilihat dari samping akan kelihatan seperti warna warni pelangi, serta menggunakan tritium untuk jarum dan indexnya. Pada dial terlihat simbol "3H" (radioactive isotop of hydrogen) dengan warna merah mencolok. Di dialnya tertulis "MILITARY". Mengapa demikian? Karena sejak awal PD merasa "PD" alias percaya diri bahwa arloji ini cocok untuk keperluan militer (miitary application), dan terbukti! Kalau tidak salah ada enam negara yang memilih arloji ini menjadi arloji resmi angkatan perang mereka. Karena itu ada beberapa variasi dial, ada yang bertuliskan "NATO" di dialnya, ada yang bertuliskan "US AIR FORCE", ada yang bertuliskan "BUND" ada juga simbol Venezuela Dept of Defence. Foto yang saya tampilkan adalah versi aslinya (belum ditambah apapun di dialnya). Oya, patut dicatat bahwa PD tipe ini termasuk tidak banyak diproduksi (mungkin karena kerjasama dengan Orfina juga tidak begitu lama), dan yang beredar di Indonesia pun sedikit sekali bisa kita jumpai. Khusus tentang tritiumnya, dewasa ini tritium tidak lagi digunakan sebagai bahan untuk lapisan jarum dan index arloji, katanya karena tidak ramah lingkungan dan biaya produksinya terlalu mahal. Dipakai dengan rantai asliya ataupun diganti tali kulit, sama-sama bagus. Catatan: size jam ini cukup besar, sekitar 42mm dan berat. Pasaran harga di internasional bisa lebih dari 3,000 dolar, kalau di dalam negeri mungkin tidak sampai separuhnya. Pada foto belakang tampak masih ada lapisan plastik yang masih belum dilepas.

Tentang Porsche Design

Bagi sebagian orang Porsche Design (PD) mungkin merk yang tidak begitu akrab. Memang, PD ada kaitannya dengan merk mobil "Porsche", tepatnya PD adalalah salah satu dari apa yang disebut sebagai automotive-inspired watches. Suatu merk yang terkait atau bahkan bermitra dengan suatu perusahaan mobil. PD mempersatukan kredibilitas otomotif dan horology. Pada mulanya adalah Ferdinand Alexander Porsche, salah seorang keturunan pendiri industri otomotif Porsche, yang memutuskan untuk meninggalkan usaha keluarga untuk memulai usaha baru dengan mendirikan Porsche Design pada tahun 1972. PD fokus pada benda-benda fashion, tetapi produk pertama PD adalah arloji (jam tangan) dengan merk Porsche Design. Karena PD bukanlah pabrikan arloji, maka PD menggandeng pabrikan arloji asal Swiss "Orfina". Jadi, dalam casing (atau dial) arloji keluaran awal PD selalu tertulis "by Orfina". Kerjasama dengan Orfina berakhir tahun ...(lupa), kemudian PD menggandeng International Watch Company (IWC). Karena itu generasi kedua PD di dial atau tutup belakangnya tertulis "by IWC". Kerjasama dengan IWC berakhir tahun 1998, kemudian sejak 1998 PD menggandeng Eterna. Kabar terakhir saya dengar PD akan mengakhiri kerjasama dengan Eterna (tahun ini?) dan akan menjadi pabrikan independen (membuat sendiri?).